"Sir, kenapa ceritanya nggak ada happy ending-nya? Kok gantung?" Pertanyaan itu terlontar dari pojok kelas, memecah keheningan setelah kami membaca sebuah cerpen ironi. Wajahnya tampak bingung, seolah saya baru saja memberinya teka-teki tanpa kunci jawaban. Cerita itu tidak menghadirkan peri, sepatu kaca, atau tokoh jahat yang dihukum secara tegas. Yang tersisa hanyalah ironi, pilihan, dan konsekuensi yang tidak selalu adil. Siswa itu menjelaskan bahwa cerita-cerita yang sudah dikenal sejak lama terasa lebih mudah dihadapi, terutama ketika diminta menceritakan ulang isi teks dan menarik pesan moral darinya. Saya terdiam sejenak, menyadari bahwa kegelisahan itu bukan semata soal satu judul dongeng. Ia mencerminkan cara siswa berhadapan dengan bacaan dan, lebih jauh, kebiasaan belajar yang selama ini terasa aman.
Di ruang kelas, dongeng-dongeng klasik maupun lokal memang masih menjadi
pilihan nyaman. Alurnya sederhana, konflik hitam-putih, dan pesan moralnya
mudah dikenali. Cerita-cerita seperti Cinderella, Malin Kundang, atau
kisah-kisah sejenis memberi kepastian sejak awal tentang siapa yang baik, siapa
yang salah, dan bagaimana akhir seharusnya. Sastra, dalam bentuk ini, kerap
berubah menjadi latihan mengulang, bukan pengalaman membaca yang mendalam.
Namun, bukankah kehidupan di luar ruang kelas tidak pernah sesederhana itu?
Anak-anak kita hari ini tumbuh bersama video pendek: YouTube Shorts,
Instagram Reels, Facebook Reels, dan TikTok. Semuanya cepat, padat, dan selesai
dalam hitungan detik. Makna tidak perlu dicari karena sudah disediakan. Reaksi
cukup dengan senyum, tawa, atau gesekan jari ke atas. Hampir tidak ada jeda
untuk ragu, apalagi untuk menafsir. Ketika mereka masuk ke kelas dan berhadapan
dengan teks yang tidak langsung "berbicara", kegelisahan pun muncul.
Kegelisahan itu berakar pada kebiasaan membaca yang jarang menuntut mereka
bertahan lebih lama di dalam pertanyaan. Teks yang menolak disederhanakan dan
tidak segera memberi tahu apa maksudnya pun terasa melelahkan.
Itulah sebabnya, untuk teks-teks naratif, saya kerap mengambil
cerita-cerita seperti The Necklace, A
Letter to God, atau The Last Leaf yang pernah
hadir dalam buku paket kurikulum sebelumnya. Saya menggunakan cerita-cerita itu
bukan karena status kurikulumnya, melainkan karena daya kerjanya sebagai teks
sastra yang mampu mengusik. Cerita-cerita tersebut tidak menawarkan pesan moral
dalam satu kalimat yang mudah disimpulkan. Ia menyimpan ironi, sindiran, dan
luka-luka kecil yang baru terasa jika dibaca perlahan. Ketika berhadapan dengan
teks semacam ini, respons siswa pun beragam. Ada sebagian menunjukkan
kelelahan, sebagian lain berkutat pada upaya mencari kepastian makna, dan ada
pula yang merasa terganggu oleh akhir cerita yang tidak memberikan penutupan
yang jelas.
Di titik itu saya menyadari bahwa sastra yang bekerja dengan baik memang
tidak selalu menyenangkan. Ia tidak hadir untuk memanjakan, melainkan untuk
mengusik kebiasaan berpikir yang terlalu cepat selesai. Keluhan siswa terhadap
teks-teks semacam ini kerap beriringan dengan fenomena lain yaitu rendahnya
nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) Bahasa Inggris. Dalam berbagai forum,
penyebabnya sering disederhanakan seperti kurikulum, metode, atau motivasi
belajar. Padahal, jika menengok contoh bacaan TKA, persoalannya terasa lebih
konkret.
Sebagian bacaan dalam TKA seperti yang disajikan dalam simulasi resmi
Pusat Asesmen Pendidikan mengangkat topik-topik seperti AI
Impacts on Industry Sectors, Digital Payment and
Cashless Society, atau Smart Spending and Consumer
Awareness. Teks-teks ini padat informasi, dan sarat istilah. Siswa tidak
cukup hanya membaca permukaannya. Mereka harus memahami apa yang sebenarnya
ingin disampaikan sebuah tulisan, bahkan ketika jawabannya tidak tertulis
secara langsungquo. Tidak ada tokoh protagonis. Tidak ada akhir yang
menenangkan. Yang ada hanyalah argumen dan implikasi. Karena itu, di kelas
sesekali saya juga membawa artikel-artikel pendek berbahasa Inggris dari media
arus utama sebagai bahan baca kelas, agar siswa terbiasa berhadapan dengan teks
nonfiksi yang tidak disederhanakan. Hal ini bertujuan untuk melatih daya tahan
membaca yang selama ini jarang disentuh.
Sulit membayangkan ketahanan membaca semacam itu tumbuh dari kebiasaan
yang sehari-harinya diisi oleh cerita dengan alur yang sudah dihafal sejak
lama. Ketika siswa terbiasa berenang di kolam dangkal, lalu tiba-tiba diminta
menghadapi kedalaman bacaan yang menuntut daya tahan kognitif, kejutan itu
terasa wajar. Karena mereka jarang dilatih berada di wilayah yang tidak segera
memberi jawaban.
Di tengah kegelisahan itu, ada satu pengalaman kecil yang memperjelas
persoalan. Seorang siswa bernama Stella, yang tidak menonjol secara vokal,
tetapi selalu bertahan dalam diskusi teks-teks yang dianggap "sulit".
Ia ragu, bertanya balik, dan tidak tergesa mencari kesimpulan. Stella adalah
contoh nyata bahwa kesabaran membaca dan ketahanan menghadapi ambiguitas
bukanlah sikap romantis belaka. Ia memiliki dampak yang nyata. Ketika hasil TKA
keluar, nilainya nyaris 94. Ini bukan keajaiban individu, melainkan buah dari
proses yang menantang.
Tentu, kegundahan ini tidak hanya milik saya. Banyak guru mengalaminya,
meski dengan sikap yang berbeda. Dalam situasi seperti itu, pembelajaran mudah
tergelincir menjadi seragam yaitu satu bahan, satu skenario, untuk kelas-kelas
yang sesungguhnya tidak pernah sama. Padahal, justru guru pengampu yang paling
mengenal denyut kelasnya tentang siapa yang perlu ditantang dan siapa yang
perlu dituntun lebih pelan.
Namun di kelas, kenyataan tetap datang bahwa siswa yang dibesarkan oleh
bacaan yang terlalu mudah tidak selalu siap ketika berhadapan dengan teks yang
menuntut lebih dari sekadar hafalan. Di situ saya tidak sedang melawan dongeng.
Saya hanya bertanya, apakah kita, sebagai pendidik, ingin terus memberi bacaan
yang menenangkan, atau berani memperkenalkan teks yang membuat siswa sedikit
tidak nyaman—seperti kehidupan yang akan mereka hadapi di luar sekolah?
Pertanyaan itu belum selesai saya jawab. Dan mungkin memang tidak perlu
segera dijawab. Seperti membaca itu sendiri, ia bekerja paling jujur ketika
kita bersedia bertahan sedikit lebih lama, sebelum semuanya terasa terlalu
mudah untuk dipahami. Mari kita ajak anak-anak kita menyelami kedalaman, bukan
hanya berenang di permukaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar